TEORI ASMA BRONKIAL

Pendahuluan1

Saat ini di seluruh dunia tengah terjadi epidemi asma, yaitu peningkatan prevalens dan derajat asma terutama pada anak – anak, baik di negara maju maupun negara berkembang. Di lain pihak, walaupun banyak hal yang berkaitan dengan asma telah terungkap namun ternyata hingga saat ini, secara keseluruhan asma masih merupakan misteri. Pengetahuan tentang patologi, patofisiologi, dan imunologi asma berkembang sangat pesat, khususnya untuk asma pada orang dewasa dan anak besar. Pada anak kecil dan bayi, mekanisme dasar perkembangan penyakit ini masih belum diketahui pasti. Lagipula bayi dan balita yang mengalami mengi saat terkena infeksi saluran napas akut, banyak yang tidak berkembang menjadi asma saat dewasanya.

Akibat ketidakjelasan tadi, definisi asma pada anak sulit untuk dirumuskan, sehingga untuk menyusun diagnosis dan tatalaksana yang baku juga mengalami kesulitan. Akibat berikutnya adalah adanya under / overdiagnosis maupun under / overtreatment. Untuk mengatasi hal itu perlu adanya alur diagnosis dan tatalaksana asma yang disepakati bersama. Secara internasional untuk saat ini panduan penanganan asma yang banyak diikuti adalah Global Initiative for Asthma (GINA) yang disusun oleh National Lung, Heart, and Blood Institue Amerika yang berkerjasama dengan WHO, dan dipublikasikan pada bulan Januari 1995. GINA juga menyebutkan bahwa anak – anak merupakan kelompok yang sulit untuk didiagnosis. Prevalens asma anak di Indonesia untuk kelompok usia SD dan SMP sudah ada, namun sayangnya belum ada data tentang under / overdiagnosis maupun under / overtreatment, walaupun keadaan itu agaknya juga terjadi.

Untuk anak – anak, GINA tidak dapat sepenuhnya diterapkan, sehingga Pediatric Asthma Consensus Group dalam pertemuan ketiganya pada bulan Maret 1995 mengeluarkan suatu pernyataan tentang Konsensus Internasional III Penanggulangan Asma Anak (selanjutnya disebut konsensus internasional saja) yang dipublikasikan pada tahun 1998. Konsensus adalah kesepakatan bersama bukan suatu SOP (Standard Operating Procedure). Selain GINA dan Konsensus Internasional, banyak negara yang mempunyai konsensus nasional di negara masing – masing misalnya Konsensus Australia.

Di Indonesia sudah ada Konsensus Nasional Asma Anak (KNAA) yang disusun oleh Unit Kerja Koordinasi Pulmonologi IDAI pada bulan Desember 1994 di Jakarta dan ditetapkan dalam KONIKA (Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak) X di Bukittinggi pada bulan Juni 1996. berhubung perkembangan yang ada sekarang ini, dan berdasarkan pengalaman penggunaannya sampai saat ini, maka rumusan Konsensus Nasional tersebut perlu ditinjau ulang. Pada acara Simposium Nasional Respirologi Anak 11 – 12 Desember 1998 di Bandung, materi Tinjauan Ulang ini telah disajikan. Selanjutnya pada pertemuan UKK Pulmonologi IDAI 12 – 13 Desember 1998, materi ini mendapat masukan dari peserta pertemuan dan telah disetujui bersama. Berikutnya pada pertemuan UKK Pulmonologi yang menyertai Simposium Respirologi Anak II di Jakarta Agustus 2000, dan Respirologi Anak III di Solo Agustus 2001 materi KNAA kembali direvisi.

Definisi

Batasan asma yang lengkap menggambarkan konsep inflamasi sebagai dasar mekanisme terjadinya asma dikeluarkan oleh GINA. Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran napas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Pada orang yang rentan inflamasi ini menyebabkan episode mengi berulang, sesak napas, rasa dada tertekan dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan napas yang luas namun bervariasi, yang paling tidak sebagian bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan. Inflamasi ini juga berhubungan dengan hiperreaktivitas jalan napas terhadap berbagai rangsangan.

Batasan di atas memang sangat lengkap, namun dalam penerapan klinisi untuk anak tidak praktis. Agaknya karena itu para perumus Konsensus Internasional dalam pernyataan ketiganya tetap menggunakan definisi lama yaitu : Mengi berulang dan/atau batuk persisten dalam asma adalah yang paling mungkin, sedangkan sebab lain yang lebih jarang telah disingkirkan.

Konsensus Nasional juga menggunakan batasan yang praktis ini dalam batasan operasionalnya, namun dengan tambahan kriteria yang lebih terarah. Batasan asma terbaru menurut KNAA 2001 adalah mengi berulang dan/atau batuk persisten dengan karakteristik sebagai berikut : timbul secara episodik, cenderung pada malam / dini hari (noktural), musiman, setelah aktivitas fisis, serta adanya riwayat asma atau atopsi lain pada pasien dan/atau keluarganya.

Diagnosis

Berdasarkan definisi operasional di atas, maka untuk mengurangi underdiagnosis oleh para perumus Konsensus Internasional penanggulangan asma anak disusun suatu alur diagnosis asma pada anak (bagan 1). Publikasi Konsensus Internasional pertama, kedua, hingga pernyataan ketiganya untuk diagnosis asma anak tetap menggunakan alur yang sama. Mengi berulang dan/atau batuk kronik berulang merupakan titik awal untuk menuju diagnosis. Termasuk yang perlu dipertimbangkan kemungkinan asma adalah anak – anak yang hanya menunjukkan batuk sebagai satu – satunya tanda, dan pada saat diperiksa tanda – tanda mengi, sesak dan lain – lain sedang tidak timbul.

Sehubungan dengan kesulitan mendiagnosis asma pada anak kecil, dengan bertambahnya umur khususnya di atas umur 3 tahun, diagnosis asma menjadi lebih definitif. Bahkan untuk anak di atas 6 tahun definisi GINA dapat digunakan.

Untuk anak yang sudah besar (> 6 tahun) pemeriksaan faal paru sebaiknya dilakukan. Uji fungsi paru yang sederhana dengan peak flow meter, atau yang lebih lengkap dengan spirometer. Uji provokasi bronkus dengan histamin, metakolin, gerak badan (exercise), udara kering dan dingin, atau dengan salin hipertonis, sangat menunjang diagnosis. Pemeriksaan ini berguna untuk mendukung diagnosis asma anak melalui 3 cara yaitu didapatkannya :

1. Variabilitas pada PFR atau FEV1 15 %.

2. Kenaikan ≥ 15 % pada PFR atau FEV1 setelah pemberian inhalasi bronkodilator.

3. Penurunan ≥ 15 % pada PFR atau FEV1 setelah provokasi bronkus.

Variabilitas harian adalah perbedaan nilai (peningkatan / penurunan) hasil PFR dalam satu hari. Penilaian yang baik dapat dilakukan dengan variabilitas mingguan yang pemeriksaannya berlangsung ≥ 2 minggu. Penggunaan peak flow meter walaupun mahal merupakan hal yang penting dan perlu diupayakan, karena selain untuk mendukung diagnosis juga untuk mengetahui keberhasilan tatalaksana asma. Berhubung alat tersebut tidak selalu ada, maka Lembar Catatan Harian dapat digunakan sebagai alternatif karena mempunyai korelasi yang baik dengan faal paru. Lembar Catatan Harian dapat digunakan dengan atau tanpa pemeriksaan PFR.

Jika gejala dan tanda asmanya jelas, serta respons terhadap pemberian obat asma baik sekali maka tidak perlu pemeriksaan diagnostik lebih lanjut. Bila respon terhadap obat asma tidak baik maka perlu dinilai dahulu apakah dosisnya sudah adekuat, cara dan waktu pemberiannya sudah benar, serta ketaatan pasien baik, sebelum mengganti pengobatan dengan obat yang lebih poten. Bila semua aspek tersebut sudah dilakukan dengan baik dan benar maka perlu dipikirkan kemungkinan bukan asma.

Pasien dengan batuk produktif, infeksi saluran napas berulang, gejala respiratorik sejak masa neonatus, muntah dan tersedak, gagal tumbuh, atau kelainan fokal paru, perlu pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan yang pelu dilakukan adalah foto Rontgen paru, uji fungsi paru, dan uji provokasi. Selain itu mungkin perlu diperiksa foto Rontgen paranaslis, uji keringat, uji imunologis, uji defisiensi imun, pemeriksaan refluks, uji mukosilier, bahkan sampai bronkoskopi.

Di Indonesia, tuberkulosis masih merupakan penyakit yang banyak dijumpai dan salah satu gejalanya adalah batuk kronik berulang. Oleh karena itu uji tuberkulin perlu dilakukan baik pada kelompok yang patut diduga asma maupun yang bukan. Dengan cara itu maka penyakit tuberkulosis yang mungkin bersamaan dengan asma akan terdiagnosis dan diterapi. Jika pasien kemudian memerlukan steroid untuk asmanya, tidak akan memperburuk tuberkulosisnya karena sudah dilindungi dengan obat.

Berdasarkan alur di atas, setiap anak yang menunjukkan gejala batuk dan/atau mengi maka akhirnya dapat berupa :

1. Asma

2. Asma dengan penyakit lain.

3. Bukan asma

Klasifikasi Derajat Penyakit Asma

Secara arbitreri KNAA membagi asma anak menjadi 3 derajat penyakit, dengan kriteria yang lebih lengkap dibanding Konsensus Internasional seperti dapat dlihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 1. Pembagian Derajat Penyakit Asma Pada Anak

No

Parameter Klinis, Kebutuhan Obat, dan Faal Paru

Asma Episodik Jarang

(Asma Ringan)

Asma Episodik Sering

(Asma Sedang)

Asma Persisten (Asma Berat)

1

Frekuensi serangan

<>

> 1 x / bulan

Sering

2

Lama serangan

<>

1 minggu

Hampir sepanjang tahun, tidak ada remisi

3

Di antara serangan

Tanpa gejala

Sering ada gejala

Gejala siang & malam

4

Tidur dan aktivitas

Tidak terganggu

Sering terganggu

Sangat terganggu

5

Pemeriksaan fisis di luar serangan

Normal (tidak ada kelainan)

Mungkin terganggu (ada kelainan)

Tidak pernah normal

6

Obat pengendali anti inflamasi

Tidak perlu

Non steroid / steroid hirupan dosis rendah

Steroid hirupan / oral

Jika fasilitas ada, pemeriksaan :

7

Uji faal paru (di luar serangan)

PEF / FEV1 > 80 %

PEF / FEV1 60-80 %

PEF / FEV1 <>

Variabilitas 20-30 %

8

Variabilitas faal paru (bila ada serangan)

Variabilitas > 15 %

Variabilitas > 30 %

Variabilitas > 50 %

Catatan :

1. Pembagian di atas dilakukan secara arbitreri, dan ada tumpang tindih antar derajat.

2. Jika ditemukan ketidaksesuaian parameter klinis dalam satu kelompok, dipakai asma yang lebih berat.

Sebagai perbandingan, GINA membagi derajat penyakit asma menjadi 4, yaitu Asma intermiten, Asma Persisten ringan, Asma persisten sedang, Asma Persisten Berat. Dasar pembagiannya adalagh gambaran klinis, faal paru dan obat yang dibutuhkan untuk mengendalikan penyakit. Dalam klasifikasi GINA dipersyaratkan adanya nilai PEF dan FEV1 untuk penilaiannya.

Konsensus Internasional III juga membagi derajat penyakit asma anak berdasarkan keadaan klinis dan kebutuhan obat menjadi 3 yaitu : Asma episodik jarang (asma ringan) yang meliputi 75 % populasi anak asma, Asma episodik sering (asma sedang) meliputi 20 % populasi dan Asma persisten (asma berat) meliputi 5 % populasi.

Tujuan Tatalaksana

Tujuan tatalaksana asma anak secara umum adalah untuk menjamin tercapainya potensi tumbuh kembang anak secara optimal. Secara lebih rinci tujuan yang ingin dicapai adalah :

1. Pasien dapat menjalani aktivitas normal seorang anak, termasuk bermain dan berolahraga.

2. Sesedikit mungkin dapat absensi sekolah.

3. Gejala tidak timbul siang ataupun malam hari.

4. Uji fungsi paru senormal mungkin, tidak ada variasi diurnal yang mencolok pada PEF.

5. Kebutuhan obat seminimal mungkin, kurang dari sekali dalam dua tiga hari, dan tidak ada serangan.

6. Efek samping obat dapat dicegah agar tidak atau sesedikit mungkin timbul, terutama yang mempengaruhi tumbun kembang anak.

Apabila tujuan ini belum tercapai maka perlu reevaluasi tatalaksananya.

Tatalaksana Medikamentosa

Hingga Konsensus Internasional III, untuk tatalaksana asma masih digunakan alur yang sama (bagan 2). Secara umum Konsensus Nasional juga masih menggunakan alur tersebut dengan beberapa perubahan dan penambahan. Dalam alur tersebut terlihat bahwa jika tatalaksana dalam suatu derajat penyakit asma sudah adekuat namun responsnya tetap tidak baik dalam 6 – 8 minggu, maka derajatnya berpindah ke yang lebih berat. Sebaliknya, jika asmanya terkendali dalam 3 – 6 bulan, maka dosis obat (steroid hirupan) diturunkan bertahap (50 – 100 ug / bulan) hingga dicapai dosis terkecil yang masih bisa mengendalikan asmanya.

Obat asma dapat dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu obat pereda (reliever) dan obat pengendali (controller). Obat pereda ada yang menyebutnya obat pelega, atau obat serangan. Obat kelompok ini digunakan untuk meredakan serangan atau gejala asma jika sedang timbul. Bila serangan sudah teratasi dan sudah tidak ada gejala lagi maka obat ini tidak digunakan lagi. Kelompok kedua adalah obat pengendali, yang disebut juga obat pencegah, atau obat profilaksis. Obat ini digunakan untuk mengatasi masalah dasar asma yaitu inflamasi kronik saluran napas. Dengan demikian pemakaian obat ini terus menerus dalam jangka waktu yang relatif lama, tergantung derajat penyakit asma dan responsnya terhadap pengobatan.

Asma Episodik Jarang

Asma episodik jarang cukup diobati dengan obat pereda berupa bronkodilator b - agonis hirupan kerja pendek jika perlu saja, yaitu jika ada gejala / serangan. Anjuran ini tidak mudah dilakukan berhubung obat tersebut mahal dan tidak selalu tersedia di semua daerah. Di samping itu pemakaian obat hirupan (metered dose inhaler) memerlukan pelatihan yang benar (untuk anak besar), dan membutuhkan alat bantu (untuk anak kecil / bayi) yang juga tidak selalu ada dan mahal harganya.

Bila obat hirupan tidak ada / tidak dapat digunakan maka b - agonis diberikan peroral. Sebenarnya kecenderungan saat ini teofilin makin kurang perannya dalam tatalaksana asma karena batas keamanannya sempit. Namun mengingat di Indonesia obat b - agonis oralpun tidak selalu ada maka dapat digunakan teofilin dengan memperhatikan kemungkinan timbulnya efek samping. Di samping itu penggunaan b - agonis oral tunggal dengan dosis besar seringkali menimbulkan efek samping berupa palpitasi, dan hal ini dapat dikurangi dengan mengurangi dosisnya serta dikombinasi dengan teofilin.

Konsensus Internasional III dan juga Konsensus Nasional seperti terlihat dalam klasifikasi asmanya tidak menganjurkan pemberian anti – inflamasi sebagai obat pengendali untuk asma ringan. Di lain pihak, untuk Asma Intermitten (derajat 1 dari 4) GINA menganjurkan penggunaan kromoglikat sebelum aktivitas fisik atau pajanan dengan alergen. Bahkan untuk Asma Persisten Ringan (derajat 2 dari 4) GINA sudah menganjurkan pemberian obat pengendali (controller) berupa anti – inflamasi yaitu steroid hirupan dosis rendah, atau kromoglikat hirupan.

Konig menemukan bukti bahwa dengan mengikuti panduan tatalaksana yang lazim, yaitu hanya memberikan bronkodilator tanpa anti – inflamasi pada asma ringan, ternyata dalam jangka panjang (± 8 tahun) pada kelompok tersebut paling sedikit yang mengalami perbaikan derajat asma. Di lain pihak, asma sedang yang mendapat kromoglikat, dan asma berat yang mendapat steroid hirupan, menunjukakan perbaikan derajat asma yang lebih besar. Perbaikan yang dimaksud adalah menurunnya derajat asma, misalnya dari berat ke sedang atau ringan, bahkan sampai asmanya asimtomatik.


Asma Episodik Sering

Jika penggunaan b - agonis hirupan sudah lebih dari 3x perminggu (tanpa menghitung penggunaan pra aktivitas fisis), atau serangan sedang / berat terjadi lebih dari sekali dalam sebulan, maka penggunaan anti – inflamasi sebagai pengendali sudah terindikasi. Anti – inflamasi lapis pertama yang digunakan adalah kromoglikat, dengan dosis minimum 10 mg 2 – 4 kali perhari. Obat ini diberikan selama 4 – 6 minggu, kemudian dievaluasi hasilnya. Jika asma sudah terkendali, pemberikan kromoglikat dapat dikurangi menjadi 2 – 3 kali perhari. Sampai sekarang, obat ini tetap paling aman untuk pengendalian asma anak, dan efek sampingnya ringan, yaitu sesekali menyebabkan batuk. Nedokromil merupakan obat satu golongan dengan kromoglikat namun lebih poten dan tidak menyebabkan batuk. Di luar negeri obat ini sudah diijinkan pemakaiannya untuk anak > 2 tahun. Namun untuk di Indonesia saat ini izin yang ada untuk anak > 12 tahun. Di pasaran Indonesia obat ini sulit didapat.

Untuk asma persisten ringan (derajat 2 dari 4) GINA menganjurkan pemberian steroid hirupan (utama) atau kromoglikat hirupan (alternatif) sebagai obat pengendali. Sedangkan untuk asma persisten sedang (derajat 3 dari 4) GINA merekomendasikan steroid hirupan tanpa memberi tempat untuk kromoglikat. Menurut hemat kami, seyogyanya untuk obat pengendali tetap dimulai dengan kromoglikat dahulu. Jika tidak berhasil baru diganti dengan steroid hirupan, dimulai dengan dosis rendah. Mengenai obat antihistamin baru non – sedatif (misalnya ketotifen), penggunaannya dapat dipertimbangkan pada anak yang mengalami kesulitan menggunakan obat hirupan atau untuk asma tipe rintis.

Asma Persisten

a. Asma Berat

Jika setelah 6 – 8 minggu kromoglikat gagal mengendalikan gejala, dan b - agonis hirupan tetap diperlukan > 3x tiap minggu maka berarti asmanya termasuk berat. Sebagai obat pengendali pilihan berikutnya adalah obat steroid hirupan. Cara pemberian steroid hirupan apakah dari dosis tinggi ke rendah selama gejala masih terkendali, atau sebaliknya dari dosis rendah ke tinggi hingga gejala dapat dikendalikan, tergantung pada kasusnya. Dalam keadaan tertentu, khususnya pada anak dengan penyakit berat, dianjurkan untuk menggunakan dosis tinggi dahulu, disertai steroid oral jangka pendek (3 – 5 hari). Selanjutnya dosis steroid hirupan diturunkan sampai optimal.

Steroid hirupan biasanya efektif dengan dosis rendah. Dalam penggunaan beklometason atau budesonid dengan dosis 200 ug/hari, belum pernah dilaporkan adanya efek samping jangka panjang. Dosis yang masih dianggap aman adalah 400 ug/hari. Di atas itu dilaporkan adanya pengaruh sistemik minimal, sedangkan dengan dosis 800 ug/hari agaknya mulai bepengaruh terhadap poros hipotalamus – hipofisis – adrenal sehingga dapat berdampak terhadap pertumbuhan. Efek sistemik steroid hirupan dapat dikurangi dengan penggunaan alat pemberi jarak berupa perenggang (spacer) yang akan mengurangi deposisi di daerah orofaringeal sehingga mengurangi absorbsi sistemik dan meningkatkan deposisi obat di paru.

Apabila dengan pemberian steroid hirupan dicapai fungsi paru yang optimal atau perbaikan klinis yang mantap selama 1 – 2 bulan, maka dosis steroid dapat dikurangi bertahap sehingga dicapai dosis terkecil yang masih bisa mengendalikan asmanya. Sementara itu penggunaan b - agonis sebagai obat pereda tetap diteruskan.

b. Asma Sangat Berat

Bila dengan terapi di atas selama 6 – 8 minggu asmanya tetap belum terkendali berarti pasien dianggap menderita asma sangat berat (bagian dari asma persisten). Penggunaan b - agonis (kerja pendek) hirupan > 3x sehari secara teratur dan terus menerus diduga mempunyai peranan dalam peningkatan morbiditas dan mortalitas asma. Oleh karena itu obat dan cara penggunaannya tersebut sebaiknya dihindari. Tetapi jika dengan steroid hirupan dosis sedang (400 – 600 ug/haro) asmanya belum terkendali, maka perlu dipertimbangkan tambahan pemberian b - agonis kerja panjang, atau b - agonis lepas kendali, atau teofilin lepas lambat. Dahulu b - agonis dan teofilin hanya dikenal sebagai bronkodilator saja. Namun akhir – akhir ini diduga mereka juga mempunyai efek anti – inflamasi.

Jika dengan penambahan obat tersebut asmanya tetap belum terkendali, obat tersebut diteruskan dan dosis steroid hirupan dinaikkan, bahkan mungkin perlu diberikan steroid oral. Langkah ini diambil hanya bila bahaya dari asmanya lebih besar daripada bahaya efek samping obat. Untuk steroid oral sebagai dosis awal dapat diberikan 1 – 2 mg/kgBB/hari. Dosis kemudian diturunkan sampai dosis terkecil yang diberikan selang hari pada pagi hari.

Cara Pemberian Obat

Cara pemberian obat asma harus disesuaikan dengan umur anak karena perbedaan kemampuan menggunakan alat inhalasi. Demikian juga kemauan anak perlu dipertimbangkan. Lebih dari 50 % anak asma tidak dapat memakai alat hirupan biasa (metered dose inhaler). Perlu dilakukan pelatihan yang benar dann berulang kali. Tabel berikut memperlihatkan anjuran pemakaian alat inhalasi disesuaikan dengan usianya.

Tabel 2. Jenis Alat Inhalasi Disesuaikan Dengan Umur

<>

Nebuliser, Aerochamber, Babyhaler

2 – 4 tahun

Nebuliser, Aerochamber, Babyhaler

Alat hirupan (MDI) dengan alat perenggang (spacer)

5 – 8 tahun

Nebuliser

MDI dengan spacer

Alat hirupan bubuk (Spinhaler, Diskhaler, Rotahaler, Turbuhaler)

> 8 tahun

Nebuliser

MDI (Metered Dose Inhaler)

Alat hirupan bubuk

Autohaler

Pemakaian alat perenggang (spacer) mengurangi deposisi obat dalam mulut (orofaring), jadi mengurangi jumlah obat yang akan tertelan sehingga mengurangi efek sistemik. Sebaliknya deposisi dalam paru akan lebih baik sehingga didapat efek terapetik yang baik. Obat hirupan dalam bentuk bubuk kering (Spinhaler, Diskhaler, Rotahaler, Turbuhaler) memerlukan inspirasi yang kuat. Umumnya bentuk ini dianjurkan untuk anak sekolah.

Sebagian alat bantu spacer (Volumatic, Nebuhaler, Aerochamber, Babyhaler, Autohaler) dapat dimodifikasi dengan menggunakan bekas gelas atau botol minuman, atau menggunakan obat dengan dot yang telah dipotong untuk anak kecil dan bayi.

Prevensi dan Intervensi Dini

Pencegahan dan tindakan dini harus menjadi tujuan utama dokter, khususnya spesialis anak dalam menangani anak asma. Dewasa ini belum ada data yang cukup kuat untuk dapat memperkirakan anak mana yang akan berlanjut asmanya atau akan menghilang. Pengendalian lingkungan, pemberian ASI, penghindaran makanan berpotensi alergenik, dengan atau tanpa pengurangan pajanan dengan tungau debu rumah dan rontokan bulu binatang, telah mengurangi alergi makanan dan khususnya dermatitis atopik pada bayi. Manfaatnya untuk prevalens asma jangka panjang diduga ada dan masih dalam penelitian.

Tindakan dini pada asma anak berdasarkan pendapat bahwa keterlambatan pemberian obat pengendali akan berakibat penyempitan jalan napas yang ireversibel (airway remodelling). Namun dari bukti yang ada resiko tersebut tidak terjadi pada asma episodik ringan. Karena itu pemberian steroid hirupan sejak awal untuk asma episodik jarang tidak dianjurkan.

Faktor Alergi dan Lingkungan

Saat ini banyak bukti bahwa alergi merupakan salah satu faktor penting berkembangnya asma. Paling tidak 75 – 90 % anak asma balita terbukti mengidap alergi, baik di negara berkembang maupun negara maju. Atopi merupakan faktor resiko yang nyata untuk menetapnya hiperreaktivitas bronkus dan gejala asma. Derajat asma yang lebih berat dapat diperkirakan dengan adanya dermatitis atopik. Terdapat hubungan antara pajanan alergen dengan sensitasi. Pajanan yang tinggi berhubungan dengan peningkatan gejala asma pada anak.

Pengendalian lingkungan harus dilakukan untuk setiap anak asma. Penghindaran terhadap asap rokok merupakan rekomendasi penting. Keluarga dengan anak asma dianjurkan tidak memelihara binatang berbulu, seperti kucing, anjing, burung. Perbaikan ventilasi ruangan, dan penghindaran kelembaban kamar perlu untuk anak yang sensitif terhadap debu rumah dan tungaunya.

Perlu ditekankan bahwa anak asma seringkali menderita rinitis alergika dan/atau sinusitis yang membuat asmanya sukar dikendalikan. Deteksi dan diagnosis kedua kelainan itu yang diikuti dengan terapi yang adekuat akan memperbaiki gejala asmanya.

Pendidikan dan Kemitraan Dalam Penanggulangan Asma

Kurangnya pengetahuan tentang asma dan tatalaksananya berhubungan dengan peningkatan mordibitas dan mortalitas penyakit ini. Hal ini bukan saja terjadi pada pasien dan keluarganya, tapi juga pada tenaga kesehatan, bahkan pada dokternya. Banyak dokter tidak mengikuti perkembangan dan perubahan konsep tentang asma dan tatalaksananya. Lebih jauh lagi mereka tidak mempunyai keterampilan pratis penggunaan alat – alat inhalasi, sehingga bahkan ada yang sampai melarang pasien yang sudah menggunakannya. Di banyak tempat di dunia asma anak masih banyak yang underdiagnosed dan undertreatment.

Dengan demikian pendidikan asma sangat perlu dilakukan pada tenaga kesehatan di satu pihak, dan pasien dengan keluarganya serta guru sekolah di lain pihak. Selain kemitraan keluarga dan gurunya, keterlibatan unsur lain juga penting misalnya Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait. Media masa dapat berperan konstruktif dalam menyebarkan informasi tentang asma dan penanggulangannya kepada masyarakat luas.

Tatalaksana Serangan Asma

Pembahasan selengkapnya tentang hal ini akan diuraikan tersendiri.

Prognosis

Beberapa studi kohort menemukan bahwa banyak bayi dengan mengi tidak berlanjut menjadi asma pada masa anak dan remajanya. Proporsi kelompok tersebut berkisar antara 45 hingga 85 %, tergantung besarnya sampel studi, tipe studi kohort dan lamanya pemantauan. Peningkatan IgE serum dan uji kulit yang positif khususnya terhadap tungau debu rumah pada bayi, dapat memperkirakan mengi persisten pada masa anak. Adanya dermatitis atopik yang sulit diatasi merupakan prediktor terjadinya asma berat.

0 comments:

Post a Comment